Di dunia yang fana ini saya mempunyai temen akrab bernama Dexter.
Akrab banget pokoknya nyaingin upinipin. Di mana ada saya di situ ada
Dexter. Di mana ada Dexter di situ kadang saya merasa sedih. Mirip
peribahasa 'ada gula ada semut'. Sebagai mahluk manis tentu saja saya
yang menjadi gula, dan Dexter sebagai semut rangrang.
Keakraban
itu tercipta disinyalir akibat kesamaan nasib kami berdua yang
memprihatinkan. Yaps benar, kami sama-sama jomblo tahunan! Aku sudah
lupa kapan terakhir kali memiliki pacar. Kalau tidak salah sekitar 16
tahun yang lalu.
Dexter lebih kronis lagi, seumur hidup dia belum
pernah punya pacar. 22 kali nembak cewek 23 kali ditolak! Hebat bukan?
Cuma Dexter yang punya prestasi seheroik itu!
Sebab, beberapa
waktu lalu ada wanita yang langsung nolak Dexter mentah-mentah, padahal
Dexter baru saja parkir motor belum sempat ngomong apa-apa.
"Ngapain lo ke rumahku? Pasti mau nembak aku kan?! Huekk ketahuan!!
Muales tahu nggak!!" tolak cewek tersebut dengan bahasa yang sangat
mudah dimengerti.
Tak ayal, Dexter pulang dengan air mata dan air telinga yang bercucuran.
Sejak hari itu hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu, Dexter
terus bersedih kayak orang ditolak cintanya padahal memang bener.
"Sabar Nan, Oops Kecelposan maksudku Dexter, ini kan sudah yang ke 23
kalinya kamu ditolak cewek, harusnya kamu udah terlatih & lebih
kebal" hiburku.
"Tapi hati ini sakit, Bro, sakiitt beud. Sialan
emang cewek-cewek jaman sekarang..." maki Dexter, sambil mengusap air
matanya memakai kertas amplas.
"Udahlah, Dex. Sekarang lagi
kemarau panjang gini, susah nyari air. Jangan boros air mata begitu..."
aku terus mencoba menghibur. Kasian. Kelihatannya kali ini dia
benar-benar depresi akut.
Dan, serial jomblo Dexter dan saya pun
terus berlanjut. Hingga beberapa minggu kemudian aku tidak pernah ketemu
Dexter. Saya curiga jangan-jangan dia nekat nenggak baygon yang udah
kadaluarsa di kamarnya.
Tapi kecurigaanku meleset! Sore-sore
Dexter berkunjung ke Kost saya dengan wajah sumringah, berseri-seri dari
seri satu sampai seri tiga.
"Wah kayaknya lagi seneng nih.." aku menyapanya.
"Hehe, iya tau aja."
"Kebaca..."
"Gue sekarang udah punya pacar, Praa.. "
"Ha?! Serius?!" aku tidak bisa percaya begitu saja.
"Tigarius malah, baru 3 hari kami jadian," kata Dexter sambil tersenyum lebar sampai ke kuping.
"Syukurlah kalau begitu..."
"Ternyata memang bener ya, indah banget hidup kalau punya pacar, dunia
serasa milik berdua. Lo cuma numpang, Alspadz, di dunia gue, mhahaha..."
Melihat tawa bahagia Dexter, rona cerah di wajahnya, aku sudah percaya kalo Dexter tidak berbohong.
"Kok nggak dibawa pacarmu? Kenalinlah sama aku.."
"Kapan-kapan deh. Lagi kuliah dia, lagian kalau gue bawa kemari takutnya lo juga naksir haha..
"Hahaha... Sialan lu! Gak mungkinlah gue makan temen, gue lagi puasa senin kamis...
Akhirnya saya bener-bener jblo seutuhnya. Pacar tak punya, sahabat
paling karib juga sudah punya pacar sendiri. Sedihnya jangan ditanya.
Beberapa hari kemudian, sehabis nonton pemutaran perdana Minions di
Plaza Medan. Aku ngopi di cafe lantai dasar, tentu saja sambil galau
meratapi kesingelanku yang entah sampai kapan selesainya.
"Alspadz...
Ada yang menyebut namaku tiba-tiba. Aku hapal sekali itu suara Dexter Begitu aku menoleh.....
"Ini pacar guee.." seru Dexter sukacita.
Astagaaa... Aku terbelalak nyaris tidak percaya melihat sosok yang
digandeng Dexter. Shock! Lidah saya sampai kelu tidak bisa berkata-kata!
Serius itu pacarnya Dexter? Kok bisaaa...? Dapet dari mana dia?
"Kenalin ini yank, sahabat baik aku," kata Dexter mesra kepada kekasihnya.
Pacarnya Dexter tersenyum kepada saya sambil mengulurkan tangan.
Saya spontan sesak napas. Langit mall seakan runtuh menjadi agar-agar.
Dengan sedikit bergetar saya sambut uluran tangan pacarnya Dexter.
"Alspadz...
"Hendro!"