Ini bukan naskah sten ap
komedi (baca: Stand Up Comedy), ini hanya kejadian gue kemarin yang gue
coba tulis dalam bentuk Sesu Ap Komedi. Hanya sesuap, jangan ngarep
lucunya bakal sepecah comic-comic Stand Up Comedy.
Jadi kemarin
pagi, sehabis ngisi ulang bensin di SPBU, trus lagi bingung harus kemana
lagi, tiba-tiba muncul ide berlian nelepon sahabat gue, si tutur. Call a
friend gitulah sebutannya kalau dalam Slumdog Milionare.
"Tur..
Gue habis ngisi bensin nih. Trus menurut lo sekarang sebaiknya gue
ngapain lagi ya? Mmm... Pesen teh tawar, atau ngelanjutin S1 di Harvard
dulu?"
"Itu pilihan yang sangat dilematis, Alspadz. Harus dimusyawarahkan secara adat dulu..."
"Yaudahlah. Gue mau jalan-jalan ke Malika aja."
Malika yang gue maksud di sini bukan malika kedelai hitam yang
dibesarkan oleh Mak Erot kayak di iklan-iklan, tapi ini Malika nama
sekolahan gue dulu. Nama lengkapnya adalah eseMkA pAruLian sidiKAlang ,
karena males nyebut panjang-panjang, warga di sini lebih praktis
menyebutnya Malika.
Suasana yang begitu sepi menyambut gue begitu
gue sampai di depan MALIKA. Hanya suara dahan-dahan pohon dihembus
angin pagi dan sesekali kicau burung-burung yang terdengar di sekitar
sekolahan. Maklum letak MALIKA emang berada di perbatasan hutan.
Tidak ada suara aktifitas belajar mengajar. Gerbang sekolah terkunci
satpam Molor. Pintu-pintu kelas dan kantor juga tampak tertutup tak
berpenghuni. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.59. Entah kenapa
mereka semua pada malas. Apa mentang-mentang karena hari itu hari
minggu, trus pada seenaknya gak masuk sekolah gitu? Mau jadi apa bangsa
ini?
Begitulah, kemarin pada hari minggu yang seharusnya ikut
ayah ke kota naik delman tua dan duduk di muka, gue malah visit to
sekolah gue dulu, tempat di mana gue menghabiskan masa masa putih
abu-abu selama 3 tahun. Banyak kenangan di sana. Kenangan terindah bagi
gue adalah pas acara masak-masak. Kan ada lagunya tuh, tiada masak
paling indah, masak-masak di sekolah.
Kenangan lainnya pas gue ke gap satpam lagi ikut2an ngawanin temen ngerokok di wc.
"Hei!!! Kenapa kalian merokok di WC?! HAH?!!"
"Lah emangnya sekarang udah boleh ngerokok di kelas, Pak?" begitu jawab
gue dengan tampang tak berdosa. Jawaban dungu yang kemudian membuat gue
diasingkan di ruang BP selama sejam. Apes!
Kenangan terkampret lainnya ketika gue sok-sokan membully adik kelas yang sok tajir.
"Bisa nggak kalau ke sekolah nggak usah bawa-bawa Ninja. Bawa kendaraan yang biasa-biasa aja! Mau pamer lo ya?"
"Ini udah yang paling jelek lho, Kak. Sisanya di rumah cuma ada Harley
Davidson, Nissan Terano, Ford Focus, Ferrari sama motor trail Kawasaki
KX100. Trus saya harus bawa yang mana, Kak? Kakak ada usul?"
"Beugh... Sombongnya lo! Naik bus kota kan bisa?"
"Yaelah, Kak. Di kota Panji gini mana ada bus kota? Ada juga bus DATRA,PAS,SAMPRI jurusan Medan-sidikalang."
"Oh... Lo mau ngelawan?! Udah hebat lo ya?!"
"Belum kok, Kak. Saya baru juara satu silat se propinsi SUMUT aja.
Itupun baru 5x. Kenapa emangnya, Kak?" jawab si adik kelas dengan
tenangnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menekuk-nekuk jari
jemarinya.
"Mmm... Ya nggak apa-apa sih. Bagus kalau gitu.
Lanjutkan..." jawab gue pelan sambil berlalu. Sebagai senior, melihat
adik kelas yang berprestasi kayak gitu emang harus didukung kan, ya?
Sementara kalau kenangan kisah kasih di sekolah hampir tidak ada sih.
Tau sendiri kan sekolah agama kayak gimana, rata-rata isinya anak rohis.
Ketahuan pacaran bakalan langsung dipanggilkan orang tua + penghulu.
Tapi walaupun dilarang pacaran, sebagai remaja bukan berarti waktu itu
gue tidak pernah jatuh cinta. Di sekolah, gue sempat naksir sama
someone. Orangnya putih bersih, berhidung mancung, ramah dan pinter
bahasa ISRAEL. Tapi sekuat tenaga pelan-pelan gue bunuh perasaan naksir
gue itu. Alasan ada 3
1. Dia guru gue sendiri. Guru bahasa
ISRAEL. Pacaran sesama murid aja dilarang, apalagi sama guru, guru
bahasa ISRAEL pula. Bisa-bisa dunia Nasrani akan tercoreng kalau gue
nekat berpacaran dengan dia.
2. Dia udah berkeluarga. Gue nggak mau dong merusak rumah tangga orang.
3. Dia seorang lelaki. (Kwkwwk canda)
Asal kalian tahu dari 3 mata pelajaran yang di ujiankan, gue cuma nggak
lulus di dua mata pelajaran aja sih, nggak lebih. Yaitu Bahasa
Indonesia sama Basa Enggres. Tapi gue lulus di pelajaran MM.
Tapi
gue nggak sakit hati nggak lulus pelajaran B. Indo. Soalnya Bahasa
Indonesia itu terkadang emang sulit. Contohnya bahasa Indonesia 'Ke
atas' itu NAIK, 'ke bawah' itu TURUN, 'ke dalam' itu MASUK, nah kalau
'ke luar' bahasa Indonesianya apa? Apa coba? Sulit bukan?
Gue
kadang mikir, kenapa sampai bisa nggak ada sinonim Bahasa Indonesianya
untuk 'ke luar'. Kenapa nggak CRUUD aja gitu. Jadi kalau misalnya ada
kalimat, 'Baru semenit Budi ke dalam rumah Ani, dia langsung keluar'.
Kalimat itu bisa diubah, 'Baru semenit Budi masuk rumah Ani, dia
langsung cruud'.
Sementara dalam pelajaran bahasa Inggris gue
lebih gawat lagi. Walau jidat gue mirip Pangeran William, tapi entah
kenapa kepandaian gue dalam berbahasa Inggris kalah telak sama anak-anak
SD di Ostrali. Sejauh ini gue hanya tahu I LOVE YOU, aku cinta kau, NO
SMOKING, dilarang merokok, I AM NOT FATHER, aku nggak papa. THE HOT IS
NOT PUBLIC, Mukupna oda umum, sama DOWNLOAD WEDDING CAREMONY, acara
ngunduh Menantu. Bahkan arti I DON'T KNOW aja gue nggak tahu!
Teman-teman ada yang tahu?
Pokoknya akut banget dah. Dan kayaknya
gue memang berhak nggak lulus UAS. Tapi yang gue heran, gue nggak
sedih-sedih bgd ketika tahu gue nggak lulus. Ini bener
Kalau pasal jatuh cinta sama guru bahasa ISRAEL di atas itu cuma tambahan materi aja
Itu aja deh. Kalau bernostagila masa-masa sekolah kayaknya memang nggak
akan selesai dalam satu tulisan. Lagi pula tadi gue udah nunggu-nunggu
sampai jam 10, tapi tetap aja nggak ada satu pun siswa yang datang.
Yaudah, setelah moto-moto area sekolahan, gue pun pulang dengan penuh
kecewa. Mungkin minggu depan gue bisa coba berkunjung lagi.
silahkan di like koment dan share yah guys bila menurut kam artikel ini menarik bagi yang like koment share semoga mudah rejeki sehat dan selalu sukses yooo guyss