Suatu senja, bertempat di sebuah pantai di Medan Sumatera Utara,
kalau gak salah pantai Cermin namanya. Ane Melihat seorang kakek yang
sudah tidak muda lagi, duduk termangu seorang diri di bangku panjang
tidak jauh dari bibir pantai.
Kebetulan sore itu cuacanya bagus.
Tidak terlalu cerah tapi juga tidak mendung. Selain kakek itu dan kami,
banyak juga wisatawan lain baik asing maupun domestik yang sedang santai
sambil menikmati mentari terbenam. Tapi tidak semua santai, beberapa
anak bule tampak asyik jejeritan dan berlarian bermain bola tanpa wasit.
Beberapa saat tadi ane liat , si kakek sempat menonton anak-anak itu
main bola. Tapi karena tidak kunjung ada gol gol, ia pun tidak mau lagi
menonton. Sekarang tatapannya tampak sayu jauh ke depan ke arah senja di
kaki langit sebelah barat. Berbanding terbalik dengan pikirannya yang
menerawang jauh ke belakang, ke masa-masa lalu masa dia muda dulu. Masa
di mana dia masih gagah, yang seharusnya diisi dengan hal-hal positif
yang berguna bagi masa depan. Tapi kakek tersebut justru menghabiskannya
untuk hura-hura dan kegiatan melanggar hukum. Maling jemuran, mencopet,
merampok, memperkosa, mabuk-mabukkan, ngisep lem aibon dan sebagainya.
Karena sepak terjangnya yang seperti itu, akhirnya tidak ada wanita
yang bersedia dipersunting olehnya. Akhirnya lagi, hingga tua seperti
saat ini kakek tersebut tidak punya siapa-siapa. Anak istri tak punya,
bahkan rumah pun tak punya. Dia tinggal di panti jompo, yang sekaligus
menjadi panti jomblo baginya.
BUUKK!! Tiba-tiba bola yang dimainkan anak-anak bule itu mengenai badannya. Ia kaget dan membuat lamunannya spontan bubar.
"I'm sorry," salah satu anak bule meminta maaf sambil memungut bola.
Kakek itu tersenyum. "Oh, not father, not father."
"Not father?" kening bule cilik itu mengernyit tak mengerti.
"Not father itu artinya tidak papa," si kakek coba memberi penjelasan.
Tapi bule itu tetap gagal paham dengan maksud omongan kakek. Akhirnya
dia pergi begitu saja sambil berbicara sendiri entah ngomong apa. Si
kakek cuma bisa geleng-geleng kagum melihat anak bule itu, "Luar biasa,
kecil-kecil sudah lancar berbahasa inggris. Mungkin kalau dulu aku
menikah, cucuku sudah seusia itu," gumam kakek itu dengan nada sedih.
Sementara ane yang menyaksikan cengengesan melihat mereka
Di saat pikirannya sedang melankolis, tiba-tiba datang seorang anak
punk duduk di sebelah kakek. Anak punk itu berusia antara 29 - 30 tahun.
Rambutnya dicat kuning dan hijau, sementara rambut-rambut yang berdiri
dicat jingga dan ungu. Di sekitar matanya diberi warna hitam. Si kakek
memandangi anak punk itu cukup lama.
"Kenapa kakek ngeliatin saya
kayak ngeliat alien baru turun dari langit?" kata si anak punk sedikit
tidak suka dengan cara kakek itu menatapnya.
Tapi sang kakek terus menatap anak punk dengan tatapan tak percaya. Seolah-olah menemukan sesuatu pada diri anak punk itu.
"Saya yakin, waktu muda dulu kakek juga suka tampil gila-gilaan kayak
saya gini kan? Tuh buktinya, udah tua aja rambutnya masih suka
diwarna-warnain. Warna putih pula. Gaya," lanjut si anak punk sambil
menunjuk rambut kakek itu yang 100% telah beruban itu.
Kakek itu
kemudian menarik nafas panjang. "Tentu saja pernah, Nak. Setiap orang
pasti memiliki kenakalan sendiri-sendiri di masa mudanya. Aku dulu...
Kakek itu tiba-tiba terdiam tidak jadi meneruskan kata-katanya. Seperti mau mengungkapkan sesuatu tapi berat untuk diucapkan.
"Katakan saja. Kakek mau bercerita apa tadi? Saya siap jadi pendengar yang baik."
"Aku dulu sering mabuk-mabukkan. Sampai suatu hari, aku minum oplosan
sampai mabuk berat, lalu dalam keadaan mabuk berat itu, aku memperkosa
seekor burung kakaktua...
"Memperkosa burung kakaktua?" Si anak punk bergidik ngeri, tapi penasaran dengan kelanjutan kisah kakek itu. "Trus, trus?"
Si kakek menoleh, memandangi lagi wajah dan kepala anak punk itu dengan
tatapan sedih dan sedikit berkaca-kaca, "Setelah melihat kamu, hatiku
berdebar-debar, jangan-jangan kamu adalah anakku?"